Part3# mertua dan menantu sweat
Ketika memutuskan menikah yang paling aku khawatirkan adalah statusku setelahnya, bukan tentang status “istri” tapi statusku sebagai “menantu”.
Seringkali kudengar para istri mengeluh tentang mertuanya
Ada yang mertuanya posesif, selalu saja merasa bahwa anaknya adalah hanya miliknya. Yang selalu ikut campur dalam segala urusan rumah tangga anaknya.
Ada mertua yang selalu mengatur dan banyak menuntut. Gila harta, gila kehormatan.
Ada mertua yang perhatian banget, selalu memperhatikan menantunya, membantunya meskipun dia sendiri sedang kesusahan, memberi padahal dia sendiri membutuhkan.
Ada mertua yang acuh tak acuh. Seperti selalu mengiyakan saja apa yang di inginkan dan dilakukan anak dan menantunya.
Mertuamu tipe yang mana.?
Sementara tipe-tipe menantu juga banyak modelnya, ada yang penurut, keinginan mertua berarti keinginan suami, dan sebagai menantu dia juga harus ikut menginginkannya. Your wish is my command.
Ada juga tipe pembangkang, dimana dia selalu saja bertentangan dengan mertuanya, entah itu dalam hal kebiasaan hidup, sifat, sikap ataupun jalan pemikiran selalu saja berbeda, dan si menantu cenderung mengikuti apa yang menurutnya benar saja.
Kalo ada mertua posesif ada juga menantu posesif, dimana selalu beranggapan bahwa suaminya adalah miliknya, tanpa peduli bahwa dia memiliki keluarga lain yang mungkin harus diperhatikannya.
Kebanyakan yang aku dengar dan saksikan adalah ketidak harmonisan hubungan mertua dan menantu. Karena seringkali mereka (baik itu si “meantu” ataupun si “mertua”) tidak bisa menahan diri untuk selalu bercerita pada kalangan mereka tentang hubungan mereka tersebut.
Ada yang ngomel gara-gara menantunya gak bisa masak, harus ya Cuma ngomel doang? Kan bisa diajarin, ah menantunya gak bisa diajarin, telmi lah, males lah alasannya, ya sabar donk...! pelan-pelan aja.
Ada yang ngomel gara-gara menantunya boros, ya udah lah, tinggal dinasihatin, “ah anaknya gak nurut bandel gak mau dengerin omongan orangtua, padahal itu kan buat kebaikan dia juga”
Banyak lah kasus-kasus yang membuat para ibu mertua jengkel pada menantunya. Gara-gara menantunya gak bisa ngurus rumah lah, gak bisa ngurus anak lah, pelit lah sama mertua, pelit sama ipar, gak akur sama ipar, suka keluyuran lah, gak ngerti agama lah, gak tau sopan santun lah, dsb.
Atau ada juga yang menantunya gak suka sama mertuanya, Cuma gara-gara mertuanya cerewet lah, banyak ngatur lah, selalu beda pendapat, dsb.
Makanya itu, karena sebagai mertua kalau yakin betul, bahwa yang dilakukannya benar dan tujuannya baik, maka bersabarlah, terus lah menasihati, teruslah mengajarkan hal yang baik dan benar pada para menantu kalian jangan bosan dan putus asa.
Dan sebagai menantu, kalo emang yang dituduhkan mertuanya benar, coba deh untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya, berusahalah untuk bersikap lebih baik, jangan pernah merasa terintimidasi.
Jangan selalu merasa bahwa kalianlah (baik itu si “mertua” ataupun si”menantu”) yang paling benar, pandapat kalianlah yang harus diterima dsb.
Sehingga si mertua tidak pernah bisa melihat sisi positif dari menantunya dan si menantu selalu saja merasa bahwa dia selalu saja salah dimata mertuanya.
Memang tidak mudah, aku sendiri tidak pernah mengalami hal-hal semacam diatas, mungkin karena aku tinggal jauh dari mertuaku, tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi menantu seperti yang kalian rasakan. Karena dari pengalamanku, jangankan dengan mertua yang dimana awalnya kita tidak mengenal dia, tidak tahu sifatnya tidaka tahu kebiasaannya, aku saja dengan ibuku selalu saja ada pertentangan, perbedaan pendapat dan pandangan mengenai banyak hal, sehingga seringkali kami adu mulut, kadang aku ingin menang sendiri kadang aku tidak bisa membantah.
Jadi sebenarnya yang harus dilakukan adalah :
> Saling menyiapkan diri untuk posisi masing-maasing entah yang menjadi mertua ataupun yang menjadi menantu.
> Saling membuka diri, untuk siap menerima orang baru dengan segala sifat dan sikapnya.
> Rendah hati, jangan selalu beranggapan bahwa posisi kalianlah yang paling benar.
Intinya, segala sesuatu bisa dimusyawarahkan, yang tidak tahu bisa dikasih tahu, yang salah paham bisa diberi pengertian.
Saling lah menyesuaikan diri, saling menghormati, saling menghargai.
Jangan egois.
Jadilah bijaksana.
Utamakan komunikasi.
Biasakanlah berterimakasih atas kebaikan yang dilakukan untuk kalian dan minta maaf atas kesalahan yang kalian lakukan.
Patut diingat. Kalian itu adalah manusia yang kalian hadapi juga manusia, hubungan manusia dengan manusia, bukankah manusia punya hati dan perasaan juga otak dengan akalnya, jadi komunikasikan apapun.
Sekeras-kerasnya hati pasti akan luluh.
("Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok").
Bersabarlah dalam melakukannya.
think positive akan menghasilkan positive thing. Semua hal yang terjadi adalah hasil dari pemikirinmu. apa yang dipikirkan, bagaimana memikirkan, itulah. menulis adalah caraku untuk mengekspresikan perasaan serta pemikiran yang tidak siap untuk diutarakan kepada orang lain (secara langsung), yang dimana ketika aku siap (tapi) ternyata orang tidak siap untuk mendengarkan. Dengan menulis aku berusaha untuk mengingatkan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Translate
Kamis, 21 April 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
setahun lalu aku memutuskan untuk melakukan operassi pembedahan payudara, ada FAM, sejenis tumor jinak di salah satu payudaraku. aku berani...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar